Berita Di Social Media: Mengkaji Pentingnya Berita Tidak Penting
Keterbukaan merupakan sebuah berkah untuk generasi reformasi ini. Keterbukaan informasi, komunikasi, berserikat dan berkumpul, hingga keterbukaan dalam menuntut kebenaran dan peradilan.
Beberapa tahun lalu, tiap pagi kita semua membaca koran, majalah, dan menonton TV yang sama, dengan topik berita yang sama pula. Sebuah media pemberitaan yang menggiring kita pada sebuah opini yang sama. Ketika artikel, tulisan, dan berita mampu membentuk opini pembacanya. Juga ketika semua kritikan dan protes yang datang dari para jurnalis kritis yang rajin dan konsisten menuliskan protes-protes keras kepada pemerintah dengan bahasa yang lugas dan sangat cair dengan pembacanya. Pelan-pelan tulisan tadi mengalirkan gairah bagi warga yang kemudian menjadi gelombang besar protes. Sebuah gelombang protes dari sebuah energi opini yang sangat kuat, yang terbukti memberikan kontribusi besar bagi perjalanan sejarah banyak bangsa. Buah pikiran, tulisan, dan penyatuan opini ternyata mampu menggerakkan sejarah sebuah bangsa pada sebuah perubahan yang sangat besar.
Era Media Baru
Kini, era baru dengan media baru membawa generasi ini menjadi sebuah paket generasi yang lebih kritis. Social media memberikan sebuah ruang dan tempat baru dimana tiap orang dari generasi kini mampu melepaskan uneg-uneg, krtitikan, bahkan protes terhadap penyelenggara negeri ini setiap saat. Tiap warga kini sudah menjadi “wartawan-wartawan” kecil yang punya kemampuan “memberitakan” semua yang salah di sekitarnya. Media sosial bekerja dalam waktu dan tempat yang sangat intensif. Tidak mengenal rapat redaksi pemilihan topik, semua topik bisa terbit kapan pun. Tidak mengenal topikheadline, karena semua berita bisa menjadi headline. Bahkan media sosial pun tidak mengenal target pembaca, karena semua orang yang punya akses ke media ini boleh membaca berikut mengomentari, mengkritisi, atau menulis artikel tandingan sekalipun. Semuanya kini bisa menjadi berita dan menjadi penyebar berita.
Media sosial, adalah media dimana sulit sekali membedakan mana berita penting dan tidak penting. Nilai berita menjadi sangat khas dan personal tingkat kepentingannya. Jika ada berita yang tidak penting untuk beberapa orang, nampaknya berita itu bisa menjadi penting untuk sekelompok orang lainnya. Rotasi headline berita tidak lagi muncul tiap pagi. Ketika era TV menjamur, kita sudah menerima headline hampir tiap beberapa jam, seperti newsflash atau breaking news. Di era social media, breaking news bisa terjadi tiap menit atau bahkan tiap detik. Sebuah terobosan yang sangat dahsyat dalam dunia jurnalistik tentunya.
Sayangnya, kekuatan dari keterbukaan ini justru mulai menggiring masyarakat kepada sebuah minimnya perhatian pada sebuah opini-opini penting dan krusial. Semua berita menjadi sama nilainya, menjadikan para pembaca berita ini tidak peduli dengan kajian berita mendalam, semua berita cukup bisa “dikunyah” dan dicerna sebentar saja. Bisa segera tahu isi berita cukup dengan hanya membaca judul artikel atau headline-nya saja. Tidak peduli apakah isi berita dan judulnya beda atau tidak.
Kini volume berita yang terbit tiap menit jumlahnya bisa berkali-kali lipat. Para wartawan dan jurnalis mulai dituntut mencari variasi berita yang unik, nichë, bahkan klise sekalipun. Kebosanan para pembaca dengan berita-berita “mainstream” mendorong terbitnya berita yang unik dan klise. Berita “murahan” ini mulai mendapat tempat di publik. Berita yang tidak penting ini kini bisa memunculkan tokoh-tokoh tidak penting pula. Dulu, di media massa hanya tokoh-tokoh penting saja yang bisa jadi bahan pemberitaan, kini semua orang rasanya sudah bisa menjadi bintang pemberitaan. Media sosial memberikan porsi ini sangat besar sekali. Orang biasa mampu menjadi bahan berita yang luar biasa. Sebaliknya berita yang luar biasa kini bisa disikapi publik biasa-biasa saja. Sikap inilah yang kini menjadi ancaman degradasi kepedulian publik atas pemberitaan-pemberitaan media massa.
Berita Basi
Publik bisa sangat lekas bosan dengan topik berita, mereka mulai mulai menuntut penyajian berita di media massa lebih cepat dan berganti-ganti, tidak yang itu-itu saja. Agen media kini musti pandai-pandai menyajikan berita dengan cara yang lebih kreatif. Demikian pula dengan publik yang juga makin menuntut penyajian berita yang lebih variatif. Tidak heran jika akhirnya berita di TV mulai menyajikan berita mirip layaknya sebuah adegan film, dengan gaya shaky camera (kamera bergoyang a ladocumentary), latar belakang musik mencekam, dan gaya host yang dramatis. Padahal mungkin isi beritanya pun cuma kisah seorang selebriti yang kelupaan menyimpan kunci rumah misalnya. Penyajian dan tampilan berita mulai menjadi aspek penting dalam sebuah pemberitaan. Dengan kata lain, berita adalah tontonan. Foto besar dengan judul yang nakal, menjadi rumusan baru. Konten berita bisa menyusul yang penting bagaimana penyajian awalnya dulu. Publik kini nyaris tidak kritis dengan berita berkait. Makin panjang berita dengan isi topik yang itu-itu saja bisa jadi akan lekas ditinggalkan pembacanya. Penulis atau penyaji berita dituntut makin kreatif menyajikannya.
Kasus kebosanan berita di atas jelas mulai mengkhawatirkan jika dipandang dari sisi gagasan dasar sebuah pemberitaan, yang dipaparkan di awal artikel ini. Sifat kritis publik pun ikut-ikutan heboh sesaat. Padahal pemberitaan media massa mempunyai manfaat sebagai koridor penggiring opini sebuah kasus negara lewat artikel-artikel kritis dan mengajak publik untuk memantaunya. Publik dicerahkan lewat tulisan-tulisan mendalam atas sebuah kasus yang mungkin sangat tertutup untuk dipublikasikan, namun jurnalis-jurnalis tadi mampu menembus dinding-dinding pembatas informasi yang akhirnya membangun opini publik atas sebuah kasus.
Hasil dari semua ini adalah, publik pun cepat bosan memantau sebuah kasus. Para pemburu berita dituntut mencari berita baru, baru, dan baru lagi. Berita di media massa kini lahir atas demand dari pembaca. Selera publik menjadi modal dasar agar berita-berita mereka tetap dibaca. Persaingan media massa makin ketat. Dalam persaingan ini, kadang kode etik pun nyaris terlupakan demi target oplah dan rating. Berita otentik tidak lagi diusung oleh para pencari berita, berita sensasional nyatanya lebih digemari publik. Terlepas dari berita itu akhirnya salah atau benar, itu tidak penting karena toh nanti akan ada berita “revisi” susulan. Yang penting beritanya terbit duluan, breaking news!
Empati Redaksi
Sampai kapan ini akan berlangsung? Nampaknya tidak akan lama, mengingat gaya publik yang mudah bosan tadi. Yang tidak boleh segera sirna adalah sifat jeli dan kritis dari para penulis, jurnalis, dan pemburu berita. Jangan mudah hanyut dengan gaya berita selesa publik. Sejarah membuktikan bahwa media berita berperan banyak dalam merubah sebuah masyarakat bahkan peradaban manusia. Lewat berita, publik mendapat pencerahan-pencerahan. Berita adalah tuntunan bukan tontonan. Tidak sepenuhnya baik jika opini publik itu meletup-letup dan impulsif dalam menyikapi sebuah kasus. Berita di media massa lah yang mampu menjaga arah opini tersebut. Demokrasi opini hanya terjadi di tataran masyarakat, melalui media massa, opini-opini ini dipilah-pilah, dialirkan ke target pembaca lewat kanal yang pas dan dijaga otentisitasnya lewat sebuah koridor agar opini itu mengarah pada goal yang tepat.
Namun bagaimana jika sebuah media massa memberitakan berita yang tidak otentik? Atau menggiring opini publik pada arah yang salah? Entah untuk kepentingan sponsor, politik, atau menghasut? Disinilah tantangan kejelian media massa lain dalam mengambil sikap. Selain justru sebagai kesempatan bagi media massa lain untuk mengambil posisi sebagai media massa yang terpercaya di mata publik. Kepentingan sponsor atau politik jelas hanya bertengger sesaat atau seumur trend, sisanya adalah kebosanan tadi. Sementara media massa yang konsisten menyampaikan kebenaran yang tulus, akan terus menjadi panduan dan pegangan opini masyarakat dan bangsanya.
Leave a Comment